The Power of Bhinneka Tunggal Ika. Bijak bermedia sosial dalam mewujudkan karakter bangsa

Berinteraksi melalui media sosial dan media digital memang berbeda jika dibandingkandengan berinteraksi dengan orang lain melalui tatap muka. Bahkan, etika dan tata krama dalam berinteraksi melalui media sosial ini harus lebih dijaga dibandingkan dengan tatap muka, karena kita tidak dapat secara langsung melihat ekspresi dan respon dari lawan bicara. Jangan sampai apa yang kita tuliskan di media sosial ataupun media digital lain menyinggung suatu individu, kelompok tertentu atau bahkan masyarakat secara umum, apalagi apapun yang kita lakukan di dunia media sosial dan media digital ini akan menjadi rekam jejak kita, baik ataupun buruknya di kemudian hari.

Berbicara soal perbedaan bukan hal yang baru lagi bagi saya. Sejak kecil bersekolah yang memang menjunjng tinggi pembauran dan perbedaan, memiliki banyak teman dan sahabat dari berbagai suku dan agama yang berbeda-beda. Teringat pula kala waktu itu pernah mendapat kesempatan untuk mengunjungi berbagai daerah di Indonesia seperti Palembang, Pekanbaru, Manado, Balikpapan, Pontianak, Bali, dan beragam kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang tentu tiap tempat yang saya kunjungi memiliki beragam budaya, tata krama, adat istiadat, dan bahasa yang berbeda-beda. Seringkali setiap sedang mengobrol dengan penduduk lokal, mereka selalu bertanya “Bang, dari sunda ya? Logatnya beda” dan selalu saya iyakan, walaupun saya berasal dari Jawa Tengah karena Bapak dari Klaten, dan Ibu dari Purwodadi. Saya sendiri lahir dan sampai sekarang masih tinggal di Bandung dan Istri asli dari Sunda. Tetapi perbedaan suku tadi tidak membuat saya merasa dikucilkan atau berbeda, malah melalui perbedaan tadi banyak cerita seru yang mengalir mengenai banyak hal yang bisa di pelajari dari sisi budaya, kebiasaan, hingga hal-hal kecil yang mungkin jarang kita perhatikan, seperti kuliner dan ragamnya. Seringkali saat berkunjung saya selalu diajak ke lokasi kuliner lokal dimana warga biasa menikmati kuliner khas daerahnya, dan itu adalah salah satu alasan utama saya senang sekali travelling mengunjungi tempat-tempat baru.

Nah di era kemajuan teknologi komunikasi saat ini, komunikasi kini tidak lagi dibatasi perbedaan jarak dan waktu. Setiap saat dari mana saja kita bisa saling berhubungan dan bersosialisasi dengan orang lain. Seseorang di ujung Sumatera dapat dengan mudah berkirim kabar ke rekannya di ujung Papua hanya dalam hitungan detik, atau bahkan secara Real-Time. Namun konsep bersosialisasi dan berkomunikasi melalui teknologi komunikasi khususnya internet saat ini harus dilakukan dengan lebih tertib dan berhati-hati. Jangan sampai niat hati sharing atau bercerita, yang ada malah menyinggung dan menyakiti hati orang lain. Apalagi karena melalui media sosial, apapun yang kita tulis adalah menjadi milik publik yang bisa dibaca oleh siapa saja, kapan saja dan menjad jejak digital kita untuk selamanya.

Bijak Bermedia Sosial dalam Mewujudkan Karakter Bangsa merupakan tema yang diusung pada pertemuan antara kami para BloggerBDG bersama dengan MPR RI yang diwakili oleh ibu Siti Fauziah, S.E., M.M. sebagai Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi Sekretariat Jenderal MPR RI serta Bapak Budi Muliawan, S.H., M.H. sebagai Kepala Bagian Pemberitaan dan Hubungan Antar Lembaga MPR RI.


Di acara yang berlangsung seru ini, kami diajak berdiskusi dan membahas bagaimana interaksi melalui dunia digital dapat menjadi suatu jati diri bangsa. Karena setiap individu yang hadir melalui media sosial dan media digital merupakan wujud representasi dari bangsanya. Betapa pentingnya selalu mengecek kebenaran suatu informasi sebelum disebarkan, sehingga kita tidak menjadi bagian dari penyebar HOAX yang seringkali membuat kondisi media sosial menjadi tidak nyaman digunakan.

Selain itu, kedua narasumber juga memberkan update seputar perkembangan media sosial, khususnya yang dikelola oleh MPR-RI serta meminta masukkan kepada para blogger untuk pengembangan-pengembangan media sosial ke depan agar dapat menjangkau lebih banyak masyarakat dalam membagikan informasi-informasi penting dan bernilai positif

Tidak lupa juga terdapat kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi, dimana para blogger memanfaatkan kesempatan ini untuk bertanya dan memberi masukkan kepada pihak pengelola media sosial dan media digital MPR-RI. Beberapa masukkan ini termasuk diantaranya agar media sosial MPR RI tidak terlalu kaku dan dapat menjangkau lebih banyak kalangan masyarakat, lalu memperkuat lagi nilai-nilai empat pilar MPR RI, dan membuat masyarakat dapat lebih mudah berinteraksi dengan MPR-RI

Semoga dengan diadakannya pertemuan ini dapat meningkatkan hubungan MPR RI dengan masyarakat, serta dapat mengedukasi netizen untuk dapat semakin bijak dalam menggunakan media sosial dengan tata krama yang baik, serta tidak menjadi penyebar HOAX.

 

2 thoughts on “The Power of Bhinneka Tunggal Ika. Bijak bermedia sosial dalam mewujudkan karakter bangsa

  1. Sungguh beruntung bagi orang-orang yang sudah pernah berkeliling Indonesia karena mereka bisa melihat keberagaman itu dengan mata kepala sendiri, berdikusi dengan masyarakat lokal, dan itu semua pada akhirnya membentuk karakter dirinya. Goal akhirnya sih tentu saja agar ia bisa menjadi bijak dalam berkomunikasi, khususnya saat bermedia sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.