Nikon D800 merupakan kamera Full Frame yang dilabeli Nikon sebagai HDSLR. Mengenai HD disini bukanlah High Definition seperti yang sering kita gunakan dalam istilah video dan multimedia,  tetapi adalah Hybrid Digital, sehingga pengejaan lengkapnya menjadi Hybrid Digital Single Lens Reflex.  Makna dari penamaan HDSLR ini adalah DSLR yang memiliki keistimewaan disamping dapat mengambil foto dengan kualitas yang bagus, kamera HDSLR juga mampu merekam video dengan kualitas yang sama baiknya.

Konon, Nikon D800 ini memiliki image quality yang bahkan dapat menyamai kamera-kamera dengan sensor medium format pada masanya loh!

Harga

Pertama kali diumumkan pada 7 Februari 2012, dan mulai dipasarkan akhir maret 2012 dengan harga saat launching sekitar 3000 Dolar Amerika, atau kalo dirupiahkan dengan kurs saat ini (1 USD = Rp 14.000) maka harga kamera ini sekitar 42 jutaan. akan tetapi jika kita pake kurs saat itu yang masih sekitar Rp 9.150 per dolarnya, maka harga kamera ketika launching sekitar 27 Juta Rupiah. Tetap Mewaaaah.

Sensor 36.3 megapixel dengan format FullFrame dan range ISO yang lebar

Pada saat diluncurkan pada Maret 2012, Nikon D800 merupakan DSLR dengan kualitas sensor yang menempati peringkat pertama pada pengujian DXOMARK dengan skor 95, yang jika kita bandingkan saat ini walaupun sudah dikalahkan penerusnya, Nikon D850 dengan skor 100, Nikon D850 ini memiliki sensor dengan skor serupa dengan Sony A7R dan Nikon Z6. Tetapi perlu diingat bahwa kualitas kamera tidak serta merta hanya ditentukan oleh kualitas sensornya saja. Fitur-fitur yang disediakan, sisi ergonomis dan kenyamanan penggunaan, dan banyak faktor-faktor lain juga perlu dipertimbangkan dalam memilih kamera.

Secara default kamera Nikon D800 ini memiliki iso 100 hingga iso 6400, tetapi jika dibutuhkan, melalui menu dapat di extend dengan penambahan iso Lo-1 (Iso 50), Hi-1 (Iso 12.800) dan Hi-2 (ISO 25.000).

Secara kualitas signal-to-noise, penggunaan iso tinggi di atas iso 6400 di kamera D800 ini sudah mulai memunculkan noise yang cukup terlihat. Tetapi tetap sebagai kamera kelas FullFrame, noise yang dihasilkan tidak sebanyak noise yang muncul dari kamera-kamera dengan sensor crop.

Pada contoh di atas misalnya, walaupun gambar yang kami tampilkan di website KepoNih! secara otomatis me-resize ke ukuran yang lebih kecil, tetap pada ISO 6400 khususnya pada baris tengah di atas buku terlihat area shadow yang memiliki noise yang cukup terlihat samar-samar, tetapi tidak terlalu mengganggu. Dan seperti yang seringkali saya katakan, lebih baik foto noise daripada ga jelas karena goyang.

Untuk ukuran dari foto yang dihasilkan Nikon D800 ini pada resolusi tertinggi kualitas JPEG High, didapat file dengan ukuran bervariasi dari 8 hingga 20 megabyte tergantung dari kondisi dan setting pemotretan. Penggunaan ISO tinggi cenderung menaikkan ukuran cukup signifikan dibandingkan dengan penggunaan iso rendah, serta tingkat kompleksitas dan banyaknya warna yang difoto juga cukup mempengaruhi ukuran final.

Maksimal FullHD?

Walaupun memiliki sensor 36,4 megapixel yang jika kita lihat pixelnya adalah 7.630 x 4.912 pixel, hampir mendekati format video 8K 7.680 x 4.320 pixel, ternyata kamera Nikon D800 ini hanya memiliki settingan kualitas video tertinggi dengan format FullHD 1080p pada resolusi 1.920 x 1.080 pixel @ 30 fps. Cukup sayang dengan sensor sebesar itu jika bisa ditingkatkan paling tidak untuk hingga video ke resolusi 4K pasti manteb banget.

Masih berbicara di sektor videografi, salah satu fitur yang paling saya suka dari kamera ini untuk pengambilan video adalah di sektor audionya. Terdapat jack 3.5mm untuk line in dari mic, recorder atau mixer, serta terdapat jack 3.5 mm pula untuk headset untuk monitor audio.

Mic Input, USB 3.0, HDMI dan 3.5mm Audio Ouput

Lalu terdapat pula audio meter yang tampil di layar LCD, sehingga kita dapat melihat level audio selagi melakukan perekaman, dan pula tersedia mode Crop ke ukuran DX untuk pengambilan video yang menggunakan lensa-lensa non-full-frame.

Peak Audio Meter

Too Much Autofocus Point?

Sometimes, More than one is simply too many.. dan mungkin itu yang saya rasakan ketika menggunakan D800 ini dalam kondisi pemotretan event indoor . Akan tetapi, mungkin ini hanya karena kebiasaan saya yang lebih senang menggunakan titik fokus hanya yang tengah, lalu melakukan lock focus (Half-shutter) dan re-framing daripada pindah-pindah titik fokus. Tetapi tentu dengan 51 titik AF dimana 15 diantaranya merupakan tipe Cross, cukup sensitif baik dalam kondisi cukup cahaya ataupun kondisi kurang cahaya, dapat menjadi fitur yang sangat menyenangkan jika ketika kita memerlukan focusing yang lebih dinamis, perlu tracking focus, atau bahkan sesederhana perlu fokus yang sangat cepat untuk street, sport & performance photography.

Dual Card. CF + SD Card

CF + SD Card

Nikon D800 memiliki 2 slot memory card, CF dan SD Card yang dapat di konfigurasi dalam berbagai mode seperti mode auto backup dimana file yang sama ditulis ke dua memori card sekaligus, lalu mode ketika satu kartu penuh maka akan otomatis menyimpan ke kartu lainnya, dan mode RAW+JPEG dimana file raw disimpan di satu kartu, sedangankan file JPEG disimpan ke kartu yang lain.

Mengingat teknologi SD Card yang sudah semakin realible, akses baca tulis semakin cepat dan harga SD Card yang jauh lebih murah dari Compact Flash (CF), untuk penggunaan non kritikal sepertinya slot CF ini tidak akan pernah diisi kartu CF karena hanya dengan menggunakan SD Card atau bahkan MicroSD + Adapter sudah lebih cukup untuk penggunaan sehari-hari.

Non Touchscreen LCD

Hari gini sepertinya ga lengkap ya kalo apa-apa ga dikasih touchscreen.. mulai dari smartphone, laptop, sampe penanak nasi.. (serius, beneran ada).. tapi sebagai pemilik dan pengguna kamera dengan layar touchscreen ( Canon EOS M3 tepatnya), touchscreen ini jujur jarang sekali digunakan karena mungkin sebagai fotografer old-school yang terbiasa dengan banyak tombol, kehadiran touchscreen tidak terlalu memberi banyak manfaat berarti. Hal ini jua yang menyebabkan saya merasa penggunaan Nikon D800 sudah cukup mudah dan nyaman tanpa kehadiran touchscreen, terlebih dengan layout tombol yang ergonomis serta hampir seluruh fitur esensial diberikan tombol fisik yang mudah diakses. Buat saya, semakin banyak tombol semakin keren suatu gadget, hahahaha…

Flash Internal FTW!

Bukan, saya bukan merekomendasikan ambil foto dengan flash internal. Nope, big Nope!. Tapi memiliki flash internal membuka kemungkinan kita dapat mengambil foto dalam kondisi darurat dengan prinsip kejar moment. Daripada ga dapet fotonya, okelah pada kondisi tertentu flash internal bisa digunakan.

Buat para professional, kehadiran flash internal ini lebih digunakan sebagai commander untuk sistem wireless flash nikon, yang dikenal dengan istilah CLS. Jadi bukan sebagai penerang objek pada foto.. tapi seperti yang sudah disampaikan di atas, kalo kepepet boleh deh ya daripada gambarnya goyang atau ga keliatan mukanya, wekekekekek

 

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

  Subscribe  
Notify of