Pertama kali mendengar tentang drifting ketika saya masih kecil, mungkin masih SD atau SMP saat ketika itu baru muncul film initial-D di tv. Sebuah film dengan genre balap mobil yang menurut saya cukup berbeda dengan film balap mobil lain dimana pada film ini lebih menekankan pada tehnik dan trik saat melibas kelokan-kelokan tajam gunung Akina yang dengan sengaja melakukan oversteer dan/atau understeer hingga roda kehilangan traksi pada mobil yang digunakan, tetapi dilakukan dengan sedemikian terkontrol dan indahnya.

Beloknya sadis banget! detik-detik sebelum roda belakang kehilangan traksi (lihat di video di bawah)

Berselang satu tahun kemudian, film Fast & Furious meluncurkan film ke-3 yang diberi nama Fast & Fourious: Tokyo Drift. Di film ini juga menekankan tehnik-tehnik dalam melibas belokan dan kelokan tajam, tidak melulu tentang kecepatan dan raw power yang dimiliki oleh suatu kendaraan. Bahkan saya ingat jelas ketika tokoh utama yang bernama Sean menghancurkan mobil yang dikendarainya karena ketidakmampuannya untuk mengontrol mobil saat berbelok tajam waktu itu. Memang Sean yang dulunya pembalap trek jalanan tidak begitu mengenal drift dengan karakter rintangan dan jalur sirkuit yang sangat berbeda dengan trek sirkuit yang biasanya lebih mengkedepankan kecepatan serta kemampuan menyalip dan ketepatan pengambilan “racing line” untuk menghindari terjadinya oversteer atau understeer kendaraan yang dipacu.

 

Drifting serta Slalom memilki persamaan dan perbedaan. Persamaannya kedua tehnik tersebut memanfaatkan momentum mobil untuk menghasilkan oversteer atau understeer yang terkontrol dengan baik sehingga ban mobil kehilangan traksi dengan jalan dan mobil akan melakukan sliding. Sliding terkontrol ini memiliki unsur keindahan serta kecepatan yang dimanfaatkan oleh para racer dalam perjuangan memenangkan balapannya.

Ada asap bukan dari knalpot, tapi dari roda yang bergesekan dengan permukaan beton. Keren!

Drifting lebih ke keindahan, akurasi, serta tehnik dalam melakukan hal tadi di atas. Trek drifting memang didesain berbeda dengan trek slalom, dengan belokan-belokan tajam yang didesain mampu menunjukkan keindahan dari keterampilan sang pengemudi melakukan sliding. Sedangkan pada Slalom, yang dikejar adalah waktu dimana trek slalom biasanya didesain sedemikian rupa untuk pembalap dapat menunjukkan keahliannya dalam melibas belokan dan putaran yang ditempuh dengan waktu secepat-cepatnya.

Di Indonesia sendiri, event balap slalom ini cukup terkenal dan seringkali dikenal dengan nama Gymkhana dengan berbagai pembalap baik wanita ataupun pria berlaga di kompetisi ini.

Tak hanya didominasi oleh pria, ladies racer juga banyak yang menggemari cabang olahraga balap ini

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

  Subscribe  
Notify of